Friday, January 20, 2012

Keep an eye on your bag!

Do you carry your bag when going out?  Keep an eye on it while being in public area.  Pickpockets might be watching you, waiting for the chance to grab your valuables.

A padlock gives extra security to your bag by locking your zipper.

The pickpockets have many ways to steal your belongings. The easiest way is taking your wallet, cellphone, or anything else directly from the bag you do not put under your view, such as on your back or under your armpit.  In that situation, they can easily unzip your bag, search, and take anything you have.  You wouldn’t realize it until finding your zipper was open.

If they think that way takes time, they do not hesitate to cut your bag with a razor blade silently so they can grope around and get what they want.

For safety and comfort, I have some tips for you:
  • Carry your bag on your chest.  It is not only for your convenience but also to make sure your (big) backpack does not disturb others in crowd, such as on a bus.
  • Lock your zipper by a small padlock.  A padlock gives extra security to your bag by locking your zipper.
  • Use a bag with durable material that can not be cut or sliced easily.
But you do not have to be a paranoiac.  Mostly, Jakarta is nice and safe.  Enjoy your trip, enjoy Jakarta! :)

Photo by Suryadi van Batavia.

[SvB]
Thx for Rifqi and Vidy for the feedback.

Are you ready to enjoy Jakarta?

Jakarta, the capital of Indonesia.
Welcome to Jakarta!

Is this your first visit to Jakarta? You may wonder there are so many things happen in this Indonesia’s capital. You never experience such occurences in another place.  In Jakarta, you must see traffic jams all around the city.  It is getting heavier in rush hours.

People innocently cross the street anywhere, not on a crosswalk or by an overpass.  But if you’re doing so, a motorcyclist gives you a horn instead of squeezing the brake lever and allows you to cross.  What a terrible place.

Jakarta is my hometown. For years, I have been keeping a spirit to tell you about this city.  I want you to know how to feel at ease, to make yourself comfortable while you stay. But I have no enough time or vocabulary to write about it. But I do not want to put off it any longer.  I have to press my keyboard and post them right now.

Here is my to-do list:
So, if you find this is useful, please let me know by leaving any comments.  Thanks.

Photo by Suryadi van Batavia.

[SvB]
Thx for Rifqi, Vidy, and Arie for the feedback. 

Tuesday, June 29, 2010

Bukan bahasa doang

Sudah sering dengar 'kan beberapa orang menyebut Bahasa Indonesia dengan satu kata: Bahasa?

Ya, para penutur Bahasa Inggris sudah ketularan orang-orang Indonesia (atau sebaliknya, orang-orang kita ketularan bule), yang mengira bahwa bahasa kita bernama "Bahasa". Padahal anak kecil juga tahu, para penduduk di bumi persada ini bertutur dalam bahasa yang secara lengkap disebut Bahasa Indonesia (lihat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36).

Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.

Jadi setuju dong kalo saya bilang bahwa Bahasa Indonesia adalah spesifik, sementara "bahasa" adalah kata generik untuk menyebut semua sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Kalo gak setuju bahwa "bahasa" adalah kata generik, lantas orang-orang Inggris, Arab, Belanda, dan sebagainya itu ngomong pake apa dong? Gak pake "bahasa"? Apakah mereka ngomong pake Language, Al-Lughah, dan Taal? Tidak. Mereka ngobrol dalam bahasa yang masing-masing disebut: English (bahasa Inggris), Al 'Arabiyah (bahasa Arab), dan Nederlands (bahasa Belanda).

Kita juga begitu. Tidak bertutur kata dengan suatu sarana yang disebut Bahasa saja, melainkan sebuah alat bernama Bahasa Indonesia. Kalo diterjemahin ke bahasa Inggris menjadi Indonesian atau Indonesian Language, bukan Bahasa atau Language doang.

Nyok rame-rame kite sebut die "Bahasa Indonesia", bukan "Bahasa" doang!

Artikel ini saya tayangkan di:

  1. Blogdetik: Bukan bahasa doang
  2. Blogspot: Bukan bahasa doang

Friday, June 25, 2010

Betawi tak kenal rindu

Jakarta baru saja melewati hari jadinya yang ke-483 (22 Juni 1527 - 22 Juni 2010). Untunglah spanduk-spanduk di pinggir jalan kini berbunyi “Selamat HUT Jakarta” atau “Selamat ulang tahun Kota Jakarta”. Tidak saya jumpai lagi “Selamat ulang tahun DKI Jakarta”.

Pas di ulang tahunnya ini, gw jadi inget bahwa kosa kata Betawi tak mengenal kata “rindu“. Tanyalah orang Betawi di sebelah Anda, apa padanan kata rindu atau kangen dalam bahasa Melayu dialek Jakarta itu. Gw jamin tuh orang bakal godeg (menggelengkan kepala) atau bergeming (diam mematung) memikirkan jawabannya. Ya, sampai hari ini gw gak nemu satu kata pun dalam bahasa Betawi yang sepadan dengan kata rindu atau kangen.

Mungkin dulu orang-orang Betawi tak pernah hidup jauh dari kerabat dalam waktu lama, sehingga kata rindu tidak perlu diciptakan dalam bahasa itu. Tapi zaman berubah. Mulailah sanak terpisah dari saudara, anak tak lagi serumah dengan orang tua. Mungkin lantaran mencari nafkah atau ikut isteri/suami. Pada saat itulah rasa rindu muncul.

Namun sepertinya orang-orang Betawi tidak menciptakan satu kata tersendiri untuk mengekspresikan perasaan ini. Alih-alih mengatakan, “Saya kangen sama orang tua,” mereka berkata: “Dah lama gak nengok orang tua, nih. Maen ke rumah babe, ah…”

Selamat ulang tahun Jakarta!

Artikel ini ditayangkan di:

  1. Blogdetik > Betawi tak kenal rindu
  2. Blogspot > Betawi tak kenal rindu

Wednesday, May 13, 2009

Yahoo! Mail Indonesia Merusak Thread Milis

Pernah ikutan milis di mana beberapa penggunanya menggunakan akun e-mail Yahoo! berbahasa Indonesia? Saya lihat ada yang aneh di situ.

Yang aneh di Yahoo! Mail Indonesia ini adalah dia memberi prefiks Bls: pada judul (subjek) di e-mail jawaban, alih-alih menggunakan Re:. Celakanya, e-mail client kita (termasuk Yahoo! sendiri) tidak menganggap ini sama dengan Re:, melainkan dianggap judul baru. Akibatnya bila ada user lain membalas pakai Yahoo!, akan berentetlah Bls: Bls: Bls: Bls: di depan judul postingan. Contohnya adalah di milis yang saya ikuti, b2w-jaksel. Di situ sampe ada postingan berjudul:

Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: [b2w-jaksel] Re: Acara Peresmian Diknas DKI Cycling Club.

Hal yang sama terjadi pada Fwd: yang dilokalkan menjadi Trs:.

Selain manjang-manjangin judul, buat saya pengguna Gmail, hal itu sering bikin bingung karena aksi berbalas posting jadi tercerai berai. Perlu diketahui, Gmail mengumpulkan posting-posting per thread sehingga kita tahu siapa yang memulai thread, siapa pembalas pertama, dan seterusnya. Lantaran balasan dari pengguna Yahoo! Mail yang berisi prefiks Bls: dianggap sebagai thread baru, maka e-mail balasan itu pun terlempar dari thread-nya semula.

Jadi sebenarnya, perlukah pelokalan Yahoo! Mail sampai melokalkan juga kode Re: (dan juga Fwd:) di judul e-mail?